Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang keberhasilannya dapat di ukur dari aspek produk maupun prosesnya. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) merupakan kegiatan yang diselenggarakan guru dalam sebuah kelas yang dapat memperlihatkan beranekaragamnya perilaku siswa yang menunjukkan kepribadian dari siswa tersebut. Seorang pengajar (guru) dalam memberikan materi sebuah mata pelajaran tidak hanya mengedepankan aspek akademik saja, tetapi perlu menyisipkan aspek pembangunan karakter (Character Building). Pembangunan karakter maupun kepribadian sangat penting karena menyangkut pembentukan moral sumber daya peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran.
Di dalam penyelenggaraan pembelajaran dituntut aspek integritas (kejujuran) dan kredibilitas tinggi baik subjek maupun objek pendidikan. Salah satu aspek integritas pada kepribadian yang menunjukkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah tingkat kepercayaan diri seseorang. Kepercayaan diri berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki oleh seseorang.
Kurangnya tingkat kepercayaan diri dan kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas maupun tes yang diberikan guru, menimbulkan ketergantungan siswa terhadap siswa lain yang dianggap mampu untuk dapat menyelesaikan tugas maupun tes, yang mana hanya menyalin hasil pekerjaan teman mereka tanpa bersusah payah untuk berusaha mengerjakan sendiri. Fenomena inilah yang disebut Menyontek.
Realitas fenomena menyontek pernah diteliti oleh Nugroho (2008) mengutip sebuah artikel dalam harian Jawa Pos yang memuat tentang hasil poling yang dilakukannya atas siswa-siswi SMP di Surabaya mengenai persoalan menyontek dengan hasil yang lumayan mengejutkan. Data itu menyebutkan bahwa, jumlah penyontek langsung tanpa malu-malu kucing mencapai 89,6 persen, langsung bertanya kepada teman mencapai 46,5 persen. Sedangkan 20 persen lebih berhati-hati pakai kode dan 14,9 persen mengandalkan lirikan. Untuk jumlah responden yang lulus dari “sensor” guru, sejumlah 65,3 persen. (http://sujinalarifin.wordpress.com/2009/06/09/menyontek-penyebab-dan-penanggulangannya/) . Dari kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran baik bagi kalangan pendidik, orang tua, maupun masyarakat akan adanya penurunan kualitas Sumber Daya Siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah sehingga berbuat yang tidak sesuai dengan karakteristik pendidikan yang menjunjung tinggi integritas.
Dari permasalahan diatas dapat di evaluasi bahwa pendidikan di Indonesia yang selama ini menggunakan nilai dari tes sebagai alat ukur evaluasi belajar siswa menimbulkan persepsi bahwa perolehan nilai yang tinggilah yang dianggap berhasil dalam belajar, bukan dilihat pada proses belajar itu sendiri. Di lain sisi, dengan pengambilan nilai dari tes tersebut, hanya dapat mewakili sisi kognitif siswa saja. Padahal masih ada aspek afektif dan psikomotorik siswa yang harus dikembangkan pula.
Pengoptimalan segi kognitif memang sangat penting dalam pembelajaran. Namun, pengembangan aspek kognitif saja tanpa diiringi dengan pengembangan aspek afektif siswa hanya akan membentuk kepribadian siswa yang hanya berorientasi pada perolehan nilai semata bukan pada proses pencapaian dan penguasaan kompetensi pembelajaran. Untuk menciptakan pembelajaran kondusif dalam pencapaian dan penguasaan kompetensi pembelajaran, maka guru harus kreatif dalam menerapkan metode pembelajaran dikelas. Seperti halnya mata pelajaran akuntansi yang berisi materi komplek dan berkesinambungan, sehingga ditekankan pemahaman dan penguasaan materi yang komprehensif pada siswa.
Akuntansi merupakan salah satu mata pelajaran dalam jurusan Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) di SMA yang merupakan turunan dari mata pelajaran matematika. Mata pelajaran semi eksak ini merupakan mata pelajaran yang bermuatan teori serta praktik perhitungan akuntansi yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari seperti praktik jual beli di pasar.
Pembelajaran akuntansi di SMA yang diajarkan oleh guru sebagian besar hanya mengedepankan aspek teori saja. Umumnya menggunakan metode ceramah dan latihan secara drilling sehingga hanya sebagian siswa saja yang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Hal ini dikarenakan kurangnya penekanan pada penguasaan kompetensi siswa terhadap mata pelajaran akuntansi.
Di setiap pembelajaran dibutuhkan aspek integritas atau kejujuran yang tinggi demikian pula penerapan nilai kejujuran juga dituntut dalam pembelajaran akuntansi. Dalam hal ini sangat terkait dengan kejujuran atau kebenaran dalam membuat informasi keuangan yakni melalui penguasaan materi akuntansi secara komprehensip dan aplikatif. Penguasaan materi akuntansi pada siswa akan menumbuhkan kepercayaan diri pada siswa dalam mengerjakan latihan soal yang berhubungan dengan siklus akuntansi maupun membentuk kemandirian siswa dalam belajar sehingga dapat mengurangi tingkat ketergantungan satu siswa dengan siswa lainnya.
Salah satu metode pembelajaran yang akan diterapkan adalah pembentukan kelompok berbasis kooperatif dalam pembelajaran akuntansi. Hal ini dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi siswa dalam menumbuhkan kemandirian belajar dan mengurangi keinginan menyontek baik saat mengerjakan tugas individu, ulangan harian, maupun ujian.
Upaya meminimalisasi Keinginan menyontek di kalangan pelajar
Pengertian Menyontek
Pengertian menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Purwadarminta sebagai suatu kegiatan mencontoh/ meniru/ mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Cheating (menyontek) menurut Wikipedia Encyclopedia sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan. Menyontek menggambarkan ketidaksiapan terutama para diri siswa dalam menghadapi ulangan. Selain itu rendahnya rasa percaya diri yang dimiliki siswa, mendorong siswa untuk melakukan kecurangan dalam mengerjakan soal-soal ulangan. Hal ini dilakukan karena adanya perasaan-perasaan tertekan dan cemas yang dialami oleh siswa karena takut gagal dan memperoleh nilai terendah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sikap adalah “ perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian Sikap yang dalam Bahasa Inggris disebut Attitude adalah segala suatu yang bereaksi terhadap suatu perangsang.
Dalam arti sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (Attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang. Sedangkan menurut Sherif ( 1956) mengartikan sikap dengan sejenis motif sosiogonis yang di peroleh melalui proses belajar. atau kemampuan internal yang berperan sekali mengambil tindakan, lebih – lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak dan bersedia beberapa alternatif.
Abdullah Alhadza dalam Admin (2004) mengutip pendapat dari Bower (1964) yang mendefinisikan “cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” maksudnya “menyontek” adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Pendapat Bower ini juga senada dengan Deighton (1971) yang menyatakan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya, cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
1.1.1. Penyebab Menyontek
Menurut Nugroho (2008), yang menjadi penyebab munculnya tindakan ”menyontek” bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam (internal) yakni diri sendiri maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.
1. Faktor dari dalam diri sendiri
• Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.
• Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.
• Sudah menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari insting untuk bertahan.
• Merupakan bentuk pelarian/protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini disebabkan pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru/dosen.
• Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi keseriusan belajar.
• Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk test/ujian.
• Tidak ingin dianggap sok suci dan lemahnya tingkat keimanan.
2. Faktor dari Guru
• Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.
• Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.
• Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.
• Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.
3. Faktor dari Orang Tua
• Adanya hukuman yang berat jikalau anaknya tidak berprestasi.
• Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak
4. Faktor dari Sistem Pendidikan
• Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah, misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk siswa.
• Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/siswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.
Dengan demikian menyontek merupakan bagian dari sikap amoral (rendah moral) yang ditunjukkan oleh seseorang dengan jalan berbuat kecurangan demi mendapatkan apa yang diinginkan sebagai contoh menyalin jawaban orang lain.
Perilaku menyontek banyak terjadi pada kalangan peserta didik baik siswa maupun mahasiswa sebagai wujud usaha instan untuk memperoleh nilai yang lebih tanpa harus belajar keras. Mental buruk inilah yang membudaya di kalangan peserta didik dewasa ini, sehingga perlu penanganan khusus baik dari pihak orang tua siswa sendiri, guru, warga sekolah dan masyarakat. Peran serta dari semua pihak sangat dibutuhkan sebagai wujud apresiasi positif terhadap pendidikan di Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar